Sunday, May 5, 2013

Jawaban

Selama ini saya terus terusan mencari dan bertanya-tanya, apa yang salah dari semuanya ? apa yang menyebabkan semesta tidak mengizinkan saya untuk merasa bahagia, setidaknya sedikit lebih lama lagi.
 Selama ini saya selalu menyalahkan berbagai hal yang bisa disalahkan, mengutuki nasib dan menganggap bahwa saya adalah orang yang paling sengsara di seluruh dunia. saya mulai menyalahkan masalah masalah yang di bebankan kepada saya tanpa ampun. menggilas gilas pikiran saya sehingga menjadi setipis kertas. gepeng dan tidak berbentuk lagi.

Selama ini saya selalu memaksakan kehendak, saya selalu berusaha untuk berlari terus menerus dengan nafas yang sudah terpatah patah dan kaki yang sudah letih, saya memaksakan diri saya untuk terus terusan berusaha dan terus terusan tidak bersikap seperti pengecut, yang hanya bisa pasrah kepada nasib. saya ingin berjuang dan diperjuangkan, saya terus berlari seperti seekor domba yang sedang dikejar serigala, tanpa pernah berfikir untuk berhenti saya menyongsong segala macam belokan dan tikungan tajam, terjatuh berkali kali dan bangkit lagi untuk melanjutkan perjuangan saya. saya kira dengan berusaha sedemikian rupa maka saya juga akan diperjuangkan seperti itu. tetapi ternyata saya salah, saya terjatuh sendiri dan bangkit sendiri, saya mengobati luka sendiri, dan terus terusan menutup telinga dari seruan seruan orang yang mengatakan bahwa sudah saatnya saya berhenti berlari. tetapi saya tetap berjuang, saya tetap berlari. sendirian.

Saya berusaha kuat, dan berusaha terus berfikir bahwa pada akhirnya semua akan menjadi seperti apa yang selama ini saya impi-impikan, bahwa suatu hari diujung rute berlari saya akan merasa bahagia, saya terus terusan menanti seseorang yang memberikan akhir dari perjalanan saya, dengan tangan yang direntangkan lebar lebar dan senyum yang menanti saya, lalu saya akan terhanyut dalam dekapan tangannya, dan pada saat itu saya akan merasa bahagia dan bersyukur karena tidak pernah berhenti ditengah jalan seperti para pengecut lainnya.

 ternyata, mereka yang berhenti ditengah jalan, dan mereka yang telah berhenti berlari bukanlah selamanya seorang pengecut. mereka yang menyerah ditengah jalan sudah cukup pintar untuk membuka mata dan telinganya, mereka tahu mana jalan yang harus dilalui dan jalan mana yang tidak seharusnya dilalui. mereka, yang awalnya bermimpi untuk seseorang yang menjadi akhir dari perjalanan, akhirnya menjadi lebih realistis, mereka terbangun dari angan angan yang semakin lama semakin menjatuhkan. mereka akhirnya sadar, bahwa mereka tidak diperjuangkan, sebagaimana mereka memperjuangkan. akhirnya mereka sadar bahwa jalan akhir adalah keputusan mereka sendiri. mereka yang memilih bagaimana caranya bahagia, bukannya terus terusan berlari seperti orang gila, mengejar seseorang untuk memberikan garis akhir perjuangan.
 bukannya membuat akhir mereka sendiri. mereka yang terus berlari kadang terlalu bodoh. mereka menunggu untuk diberi kepastian, bukannya membuat kepastian.

 ternyata yang dimaksud jalan akhir adalah merelakan, mengikhlaskan pergi. bukannya terus terusan memeluk seseorang yang ingin dibebaskan. jalan akhir dari perjuangan satu arah adalah untuk berhenti berlari, membuat ujung rutenya sendiri. memilih bagaimana mereka akan bahagia. mereka memilih, bukan menunggu untuk dipilihkan.

 cara terbaik untuk bahagia adalah berhenti berharap, berhenti bermimpi yang terlalu muluk, dan menyadari sudah saatnya untuk menyelesaikan rute berlari yang tidak layak. dimana mereka hanya berjuang sendiri.
Melepaskan akhirnya akan terasa menjadi sesuatu yang benar, menjadi suatu ujung dari perjuangan yang melelahkan. mereka bangkit, dari keterpurukan dan dari mimpi yang menjatuhkan. mereka sadar, dan akhirnya mengikhlaskan, ikhlas untuk apapun yang akan terjadi, untuk semuanya.

Menjadi lebih realistis, mereka akhirnya akan mendoakan. mendoakan agar suatu saat "ujung rute yang selama ini di impi impikan" akan menemukan pelari yang memang pantas untuk sampai di akhir tujuan, akan menemukan pelari yang benar-benar pantas mendapatkan dekapan kemenangan, akan menemukan pelari yang memang layak, pelari yang menggerakan mereka untuk berjuang bersama menuju ujung, bukan hanya satu pihak, melainkan dua pihak yang berjuang bersama. pelari dan ujung perjalanan yang sudah ditentukan semesta.

Dan pelari yang berhenti ditengah jalan ini, masih ingin merasakan udara kebebasan sebentar lagi, merayakan kebangkitannya sedikit lebih lama lagi. sampai pada akhirnya mereka akan berlari lagi, mereka akan berjuang lagi. di rute yang berbeda, dengan ujung perjalanan yang memang sudah dikhusukan untuk mereka lalui sampai akhir.

 mereka akan berlari lagi. di rute yang lebih layak.



No comments:

Post a Comment