Monday, January 21, 2013

sweet-short-life of cemong


kita nggak tau, dan nggak akan pernah tau kapan kematian bakalan datang. bahkan masih 'muda' nggak akan pernah menjamin bahwa umur kita masih panjang. bisa kapan aja, dan dengan cara apapun yang nggak pernah kita duga. satu hal yang pasti, disetiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan disetiap awal akan selalu ada akhir. sudah hukum alam. pisah, karena kematian adalah perpisahan yang paling susah dan paling berat untuk dijalani, tanpa batas waktu, tanpa komunikasi, tanpa mendapat kabar, dan tanpa ada kemungkinan untuk mereka bisa kembali. sudah bukan perpisahan pada jarak, tetapi juga sudah berada di dimensi yang berbeda. jauh..

 Allah, sudah mengatur setiap pertemuan yang ada dihidup saya. dan pada hari yang telah ditentukan tersebut saya bertemu 'Cemong', bayi kucing 2 bulan, jantan, dan amat sangat menggemaskan. dia berpindah tangan dari Salsa ke Saya, ya, Cemong adalah kucing kecil milik Salsa yang diberikan kepada saya di suatu sore sepulang dari latihan cheerleader. saya melihat dia sedang duduk manis didalam kandang diatas motor, menatap saya dari dalam, seakan-akan berusaha meneliti saya terlebih dahulu. setelah jemputan saya datang, salsa mengantarkan cemong menuju rumah saya. itu adalah salah satu sore terbaik yang pernah saya miliki.

Cemong tidak pernah menyusahkan kami dirumah, saya masih ingat jelas hari-hari dimana dia dan kucing jantan saya yang sudah besar (cookies) masih dalam tahap perkenalan. Cemong yang secara fisik jauh lebih kecil daripada Cookies malahan membuat cookies ketakutan setiap kali melihat cemong. sungguh menggelikan melihat mereka berdua berkejar-kejaran seperti kucing dengan tikus. sampai pada akhirnya mereka sudah saling mengenal, dan tak jarang saya melihat mereka berdua tidur berpelukan, seperti kakak dan adik, manis :)

Sejak pertama kali datang kerumah saya, Cemong terlihat sedikit mempunyai gangguan pada alat pencernaannya, seperti sedang diare, anehnya makannya tetap lahap, tetapi setiap kali ia membuang kotoran selalu mengeluarkan darah segar. kami sudah pernah mendatangkan dokter hewan ke rumah. dokter mengangkat dan menekan-nekan perut si kecil, diagnosa pada saat itu adalah Cemong kurang cocok memakan makanan kucing dewasa seperti biskuit, harus dibelikan yang kitten. dokter juga memberikan resep untuk obat yang harus ditebus di apotek. setelah beberapa lama pemakaian obat, akhirnya kotorannya kembali normal, cemong sudah sehat lagi.

 Setelah itu beberapa bulan kemudian, tepatnya pada bulan Desember atau awal Januari gejala tersebut muncul kembali, kotorannya berbentuk cairan dan bercampur dengan darah. matanya masih terlihat sehat, hanya pantatnya selalu kotor akibat buang air besar yang terlalu sering. walaupun begitu makannya masih amat sangat lahap. keesokan harinya, muncul benjolan merah pada anus si kecil, seperti daging atau bahkan ujung dari usus, mama asal mengatakan "wah, kok kayak ambeien sih ?" gejala ambeien pada manusia juga mengeluarkan darah bukan ? saya dan kakak saya mulai merasa was-was dan bertanya-tanya "benarkah memang ada ambeien pada kucing?". sampai pada akhirnya kami mencari di google, ''ambeien pada kucing'' dan betapa kagetnya kami ternyata memang ada ambeien yang terjadi pada kucing, ada artikel yang menjelaskan stadium-stadium ambeien pada kucing, dan pada stadium ke IV maka si kucing harus menjalani operasi. betapa mencelos hati saya membaca artikel tersebut.

 akhirnya pada malam harinya kami berencana membawa cemong menuju rumah dokter hewan langganan kami, kami membawa dia pada malam hari tepat setelah maghrib. saya masukan cemong kedalam keranjang pink kecilnya, saya tutupi kain biru tipis, dan saya bawa dia menuju dokter, saat hujan. semuanya terasa dingin, saya merasa amat sangat sedih dengan keadaan kucing kecil saya. saya meneteskan air mata melihat cemong dari sela-sela keranjangnya. malam itu saya bawa dia ke dokter, dan saya menangis dibawah hujan.

sesampainya disana kami melakukan konsultasi pada dokter, ternyata ambeien pada kucing memang ada namun jarang terjadi. 1 : 1000 . dokter menyarankan untuk memasukan anusnya yang keluar daripada semakin besar dan akhirnya membusuk. kami melakukan proses proses sebelum terjadi ''pemasukan anus". saya menggendong cemong saat dia disuntik antibiotik pada kedua kaki bagian bawahnya. cemong mengeong kesakitan dan melawan dalam gendongan saya. ternyata cemong tidak kuat pada antibiotik, dan akhirnya mulutnya mengeluarkan busa putih selama satu jam. saya hancur melihat dia kesakitan, apalagi saat anusnya dimasukkan menggunakan es batu. kucing kecil saya menangis kesakitan di meja praktek dokter.

 namun setelah berkali kali kami kembali ke rumah dokter, anus nya selalu keluar lagi, dan semakin lama volumenya semakin besar. kami juga mulai menyadari bahwa dokternya sudah tidak mengerti harus bertindak apa untuk kucing kecil kami, dan operasi bukanlah pilihan yang baik untuk kucing. mulai hari itu kami sudah mengerti, tidak ada apapun yang bisa kali lakukan untuk cemong. kami tinggal menunggu waktu.

pada masa-masa seperti itu saya menjadi pribadi yang jauh lebih sensitif, setiap sore saya melihat kucing kecil saya duduk di garasi depan, menyendiri. anusnya sudah mulai mengeluarkan bau busuk, dan napsu makan nya semakin hari semakin menghilang, dia sudah tau bahwa dia juga sedang menunggu waktu. yang bisa saya lakukan adalah duduk diam disebelahnya, mengingat ingat kejadian kejadian yang telah kami lakukan berdua, setiap kali saya menggendong dia, pertama kali saya melihat dia, saya mengingat semuanya. pada saat itu saya cenderung menjauhi dia, karena setiap didekat dia saya selalu merasa hancur, dan airmata saya tak pernah berhenti berjatuhan. saya terlalu pengecut untuk menemani dia menunggu kematiannya.
 sampai pada akhirnya saya mencurahkan semua perasaan saya pada Dhea, dan betapa saya merasa seperti seorang pengecut setelah membaca sms dhea :

"kiddy jangan tinggalin dia, kamu harus manfaatin waktumu sama dia, lebih baik dia mati bahagia kid daripada sendirian kan ? dia selalu ada buat kamu selama ini. jadi intinya mau seneng atau mau sedih ya bareng-bareng kid"

sore itu saya duduk berdua bersama cemong, saya menangis disampingnya, mengucap doa-doa untuknya, dan pada akhirnya saya meneguhkan hati untuk berkata :

"Mong, mbak Kintan udah nggak apa-apa, mbak Kintan udah terima kasih sekali sudah ditemenin sama cemong, mbak Kintan ikhlas mong kamu pergi.. gapapa pergi aja, biar nggak sakit lagi"

saya masih merasa hancur setiap harinya membayangkan ditinggalkan sahabat kecil saya menuju alam lain. saya patah hati. bahkan hati saya sudah berubah menjadi serpihan serpihan debu, sampai pada akhirnya cemong sudah tidak bisa bertahan, pada tanggal 16 Januari malam matanya sudah tidak memancarkan sinar lagi, matanya sudah kosong, dia hanya menyenderkan badannya di tembok teras depan. matanya tidak lagi menatap saya, seakan akan jiwanya sedang menjelajah entah kemana. perutnya masih bergerak menandakan dia masih bernafas, namun dia sudah tidak bisa mengangkat tubuhnya, dia hanya bisa tiduran. sesekali saya mendengar dia merintih kecil pada saat saya melafalkan doa doa pendek untuk mengantarkan dia pergi. rintihannya singkat, namun saya bisa merasakan betapa sakitnya dia pada saat itu. malam itu saya berdoa untuk apapun yang terbaik untuk cemong, meskipun dia harus pergi meninggalkan saya maka saya sudah siap dan saya ikhlas.

keesokan paginya kami tidak melihat sosok cemong dimana-mana, kami mencari ke sudut sudut rumah. dan saya akhirnya melihat bulu coklatnya. cemong berada di pojok garasi, dibalik karpet besar yang digulung ke atas, saya perhatikan perutnya. sudah tidak bergerak lagi. bau busuk sudah amat sangat tajam dan saya lihat anusnya telah berubah warna menjadi hitam. saya hampir menangis, namun saya sadar doa saya telah dijawab Allah, cemong sudah mendapat yang terbaik, dan sudah tidak merasakan sakit lagi. dia sudah bebas dari rasa sakitnya, dan saya ikut merasa bahagia.

saat diangkat, tubuhnya sudah kaku. mama membungkus dia dengan baju mama, saya mengajukan diri untuk menggendong cemong menuju lubang yang sudah digali papa didepan rumah. saya gendong sahabat kecil saya untuk terakhir kalinya, dan saya tidurkan dia dibawah pohon didepan rumah.saya sedih sekaligus bahagua.  cemong sudah bebas :')

saya bersyukur untuk pertemuan singkat saya bersama cemong, semoga dia bahagia dimanapun dia berada sekarang.

ayo ketemu lagi di surga ya mong,
we love you.

No comments:

Post a Comment